perjalananku

Kamis, 05 Februari 2009



Mengenal kota Lasem (Sekilas)

Udara pantai memang seger dan beda banget sama polusi kota-kota besar. Memang tidak sedikit kota-kota dipesisir pantai utara Pulau Jawa yang keberadaannya sekarang sangat berbeda dengan zaman dulu. Kita bisa melihat Kota Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang yang berkembang sangat pesan dan cenderung tidak teratata dalam proses pengembangan kotanya. Namun tidak sedikit kota-kota di pesisir utara Jawa yang masih terlihat sosok indahnya, dengan kekhasan nuansa tradisional dan sejarahnya.


Tengoklah salah satu kota dipesisir utara ulau jawa di bagian timur dari kota Remabang, terdapat sebuah kota Kuno yang masih menyimpan berbagai kekhasan sejarahnya yang sanagt kental. Kota tersebut adalah Kota Lasem. Kota ini berjarak kurang lebih 30 menit dari kota Rembang. Akses menuju kota ini dapat di tempuh dengan menggunkan Bus maupun kendaraan bermotor, dan sangat mudah sekali untuk kesana, dikarenakan kota tersebut merupakan kota yang di lintasi jalan Deandels yang di bangun lebih dari 200 tahun yang lalu.


Di kota Lasem kita bisa melihat adanya pemukiman Kolonial dan juga Pemukiman Cina yang masih sangat asli dan masih bertahan sampai sekarang. Selain itu terdapat juga kekhasan lain yaitu yang terenal adalah Batik Lasem yang memiliki ornamen atau hiasan batik yang sangat khas dengan corak yang agak "ngejreng" dan juga motif yang sangat kental akan pengaruh Cinanya.

Minggu, 09 November 2008

SEKILAS SEJARAH
STASIUN DI SOLO


Di Surakarta di kenal empat stasiun kereta api yang besar yaitu stasiun Purwosari, Jebres, Solo Balapan, dan Sangkrah. Stasiun Purwosari dan Jebres merupakan stasiun yang dimiliki oleh pihak kerajaan yang ada di Surakarta . Stasiun Purwosari di miliki oleh pihak keraton Mangkunegaran, sedangkan stasiun Jebres di miliki oleh pihak keraton Kasunanan Surakarta. Kerajaan Kasunanan Surakarta didirikan oleh Raja Pakubuwono II pada tahun 1745. Sedangkan Pura Mangkunegaran didirikan oleh Raden Mas Said yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyowo pada tahun 1757 setelah yerjadinya penandatanganan perundingan Salatiga yang terjadi pada tanggal 13 Maret. Kedua stasiun tersebut tentunya memiliki latar belakang pendirian yang sama yaitu untuk memudahkan pihak-pihak baik itu berupa warga maupun pejabat dari kedua kerajaan tersebut dalam melakukan segala macam kegiatannya baik yang menyangkut masalah politik, ekonomi, social budaya, dan segala macam kepentingan lainnya. Stasiun purwosari terletak di sebelah barat Surakarta, dan relatif dekat dengan pura Mangkunegaran. Stasiun Purwosari di bangun pada tahun 1875 sedangkan stasiun Jebres di dirikan pada tahun 1884, sedangkan dua stasuin lainnya yaitu stasiun Solo Balapan di bangun tahun 1910 dan Stasiun Sangkrah pada tahun 1922.

Sistem transportasi di kota Surakarta semakin mengalami kemajuan yang pesat sekali dimana pemerintah Hindia Belanda memiliki peran dean andil yang sangat besar dalam kemajuan transportasi di wilayah Surakarta. Pemerintah Kolonial pada waktu itu perananannya memang sangat besar di Indonesia tak terkecuali di wilayah surakarta. Pemerintah kolonial bekerja sama dengan dua kerajaan tersebut untuk membangun Stasiun dan jaringan kereta api yang ada di Surakarta. Pembangunan jalur ini ditandai ditangani oleh NIS ( Nederlandsh Indische Spoorweg Maatschappi ). Jalur rel di Wilayah Surakarta meliputi jalur utama (kelas C), yaitu : Jalur ke arah utara yang menuju ke Semarang, jalur ke barat yang menuju ke arah Jogjakarta, dan jalur kereta api yang menuju ke arah timur yaitu menuju ke Surabaya. Ada juga kereta api sekunder ( kelas II ) yang rute perjalananya menuju keselatan Surakarta yaitu ke Wonogiri dan jalur yang menuju ke barat laut yaitu ke Boyolali Di dalam kota Surakarta terdapat juga rute kereta api dan berpusat di stasuiun sangkrah (stasiun dalam kota) dengan melewti berbagai macam daerah yang terdapat di eks Karisidenan Surakarta. Daerah-daerah yang di lalui jalur tersebut antara lain adalah sebagau berukut: Pajang, Majang, Gowok, Wonosri, Tegal Gondo, Delangu, Kartosuro, Kampung Ngasem, Bangak, Banyudono, Pengging, Teras, Randusari, Kepoh, Ceper, Ketandan, Klaten, Srowot, Brambanan, Mojosongo, boyolali, Wonogiri, Sumohulun, Gondang Dondong, Nguntoronadi, dan terakhir adalah Batu retno.

Keempat stasiun yang ada di Solo tersebut masih berfungsi dan masih tetap digunakan sampai sekarang. Stasiun Purwosari merupakan stasiun yang paling tua diantara stasiun-stasiun di Solo. Setelah ada penemuan mesin uap pada akhir abad ke 19 di Hindia Belanda juga tak ketinggalan terkena imbasnya. Ini terbukti bahwa di Indonesi dan di jawa pada waktu itu mulai muncul lokomotif bertenaga uap, dan di bangun pula SS ( Staats Spoorwagen ) dan jalurnya adalah yogyakarta-Madiun. Stasiun Jebres merupakan stasiun besarnya SS. Awal tahun 1900an di bangunlah stasiun Balapan dan kemudian pada perkembangannya kereta jalur dalam kota diperluas menuju Wonogiri. Dengan adanya perluasan jalur kea rah timur laut tersebut maka di bangunlah stasiun Sangkrah. Semua jalur kelas C menuju ke luar kota Solo. Jalur Purwosari_sengkreh merupakan jalur yang melewati jalan utama di kota Solo, yakni jalur Slamet Riyadi. Kereta api dalam kota tersebut tidak dapat berhenti di sembarang tempat, tetapi harus berhenti halte-halte atau terminal kecil yang khusus di gunakan untuk kereta api dalam kota tersebut. Salah satunya adalah di daerah pasar Pon, yaitu di sebelah selatan kompleks keraton Mangkunegaran.

Jalur-jalur yang di atas dapat disebut sebagai jalur untuk daerah Hiterland Surakarta, dengan pemberhentian di stasiun Sangkrah. Meskipun hanya berstatus jalur nomor dua tatapi bagi kepentingan ekonomi terutama pertanian dan perdaganga pada waktu itu sangat terbantu dengan adanya rute tersebut. Manfaat dari adanya jalur Hinetrland surakarta sangat besar artinya, dikarenakan dapat dijadikan suatu rujukan alternatif untuk alat pengangkut barang dagangan dan tentunya khusus untuk sistem transportasi tertentu. Maskapai kereta api NIS telah mengelurkan tarif harga yang relative cukup murah untuk KA sekunder bagi inlandern atau pribumi. Penetapan tarif tersebut di lakukan pada tahun 1928, sehingga harga tiket tersebut dapat terjangkau oleh kocek pribumi pada masa itu.

Untuk jalur kelas satu yaitu jalur Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya, sangat bermanfaat dan banyak berguna sekali untuk kegiatan perekonomian terutama dalam kegiatan perdagangan. Sehingga pertumbuhan kota mengalami kemjuan secara pesat dan tidak tertutup pula kemajuan di daerah di sekitar kota Surakarta. Cotoh rute yang sering dipergunakan dalam perdagangan ini adalah Surabaya-Surakarta dan Surakarta-Yogyakarta.. Pedagang dari Purworejo, Prambanan, atau Klaten dapat memakai jalurYogaya-Surakarta. Salah satu tempat pemberhentian yang di lalui jalur kereta kelas satu adalah Stasiun Balapan. Lokasi stasiun ini sangat besar dan cukup dekat dengan salah satu sektor perekonomian yang ada di Solo yaitu Pasar Legi yang letaknya di sebelah utaranya Stasiun Balapan. Contoh lainnya adalah adanya sebuah halte kecil di dekat pasar Pon. Hal ini sangat bermanfaat sekali dimana para pedagang yang akan menjajakan berbagai macam barang dagangannya. Dengan adanya jalur kereta api beserata armadanya dapat memaksimalkan efisiensi waktu bagi penduduk pada masa itu. Karena kereta api merupakan alat transportasi yang sangat cepat yanga ada di darat pada waktu itu. Dengan adnya empat stasiun yang ada di Surakarta tersebut perekonomian dapat berkembang secara langsung dan tak langsung akibat adanya keempat stasiun kereta api tersebut. Mula muncullah sentral-sentral perekonomian di dekat stasin tersebut, dan kemajuan infrastruktur di Surakarta sangat terkait dengan adanya empat stasiun yang ada itu.


Selasa, 04 November 2008

Jalan-Jalan ke Pulau Mandalika

Pulau Mandalika, Kecil Tapi Indah

Jika pergi melancong ke Jepara tak ada salahnya kalau kita mengunjungi Benteng Portugis yang terletak di daerah Keling, salah satu Kecamatan di Jepara yang berbatasan dengan Kabupaten Pati dan terletak di sebelah utara dari Gunung Muria. Benteng Portugis yang yang ada di wilayah tersebut sudah tidak bisa dikenali dengan mate telanjang, dikarenakan telah tertimbun oleh tanah , dan rusak selama berabd-abad, dan kini telah tertutupi oleh banyaknya rumput dan semak-semak. Namun jangan lantas kecewa dan pulang dengan tangan hampa, karena di utara dari benteng tersebut terdapat tempat yang menari sekali yaitu pulau Mandalika.


Mandalika adalah sebuah pulau kecil, tepatnya di sebelah utara pantai utara Jawa Tengah. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Posisi lebih tepatnya berada di sebelah utara desa Ujung Watu yang berjarak sekitar 2 km dan bisa dilihat dengan jelas dari desa tersebut.

Untuk menuju pulau ini bisa menggunakan perahu nelayan (perahu dengan mesin tempel) dan memerlukan waktu tempuh tidak lebih dari 0,5 jam. Di pulau ini berdiri sebuah menara suar (mercu suar) yang digunakan sebagai tanda batas daratan bagi kapal-kapal berbadan besar. Letak Pulau Mandalika ini berhadap-hadapan langsung dengan lokasi wisata Benteng Portugis

Mandalika adalah kepulauan yang bisa dilihat jelas dari Benteng Portugis di daerah Keling - Jepara. Mandalika hanya berjarak 500 meter dari bibir tebing Benteng Portugis. Jalur Kapal Kartini Karimunjawa-Jepara melintas di antara Benteng Portugis dan pulau Mandalika.

Kita bisa menyewa perahu nelayan untuk mengantarkannya ke pulau tesebut, ongkos naik perahupun relatif murah meriah, cukup untuk kantong orang yang melancong dengan bekal keuangan yang minim, berkisar antar Rp 10.000 - Rp 20.000/orang. Di sana akan di dapatkan pemandangan yang menarik, yang masih asri, dan mungkin dapat menyegarkan otak kita dari berbagai macam kepenatan.

Senin, 03 November 2008




Jalan-Jalan Ke Lombok, Kenapa tidak??


Apabila kita mendapatkan rejeki nomplok, dan seperti kejatuhan nangka yang matang dari langit, apa yang akan kita lakukan dengan uang tersebut? Mungkin kita bisa saja berpikiran akan mengambur-hamburkannya, atau untuk kegiatan yang lainnya. Wisata mungkin kata yang cocok untuk membelanjakanya. Kemudian kita pasti berpikir mengenai tujuan dan tempatnya. Bila Anda belum mempunyai tujuan yang pasti, kita bisa mengunjungi Pulau Lombok untuk berlibur dan refrshing dengan mengunjungi seluruh daerah pariwisata di Lombok, tentunya minus mendaki gunung Rinjani atau menginap di pulau Gili Trawangan.

Peta pulau Lombok

Di bawah ini akan saya sampaikan beberapa daerah yang layak dikunjungi (walaupun saya juga belum sempat mengunjungi semuanya), sesuai brosur pariwisata yang saya peroleh dari hotel tempat saya menginap:

1. Suranadi. Di sini ada hotel lengkap dengan kolam renang air hangat dan lapangan tennis. Juga ada pura Hindu tertua, berlokasi 17 km jika naik kendaraan dari kota Mataram.

2. Lingsar. Pura dengan ikan keramat di dalam kolam, lokasi 9 km dengan naik kendaraan dari kota Mataram.

3. Narmada. Kebun Raya Lombok, dengan kolam renang, serta ada pura Hindu yang sering digunakan umat Hindu untuk bersembahyang, lokasi 12 km dengan kendaraan dari kota Mataram.

4. Batu Bolong. Terdapat pura diatas batu karang yang menjorok ke laut, dan jika cuaca cerah bisa melihat gunung Agung di pulau Bali, serta bagus untuk melihat pemandangan saat sunset. Lokasi 8 km dengan kendaraan dari kota Mataram. Untuk memasuki area, maka kita diwajibkan memakai pita kuning dari kain (dapat menyewa di lokasi), yang dipasang melingkari pinggang. Pemandangan disini indah sekali, air laut menerobos melalui sela-sela batu karang yang berlubang, menimbulkan bunyi gemerosak. Sayang saat saya kesini, cuaca masih mendung selepas turun hujan, tapi pemandangan indah sekali. Matahari mengintip di sela-sela awan, dan cahayanya jatuh terpantul di air laut.


5. Senggigi. Pantai alam berpasir putih yang bersih, dikelilingi hotel, losmen dan bungalow. Sangat indah sekali, terutama jika waktu sunrise maupun sunset. Lokasi 10 km dengan kendaraan dari kota Mataram. Di pantai banyak penjaja cinderamata, berupa mutiara budidaya air tawar yang berwarna warni, mulai dari harga Rp.25.000,- Juga penjaja kaos bertuliskan Lombok dan Senggigi, serta ukiran khas Lombok pada kayu, bisa berupa tempat buah, topeng dan lain-lain.

6. Sire Beach. Taman laut dengan exotic coral dan ikan yang berenang kian kemari. Berlokasi 36 km dengan kendaraan dari kota Mataram.

7. Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Pulau kahyangan di utara Lombok, dikelilingi taman laut. Disini banyak orang diving maupun surfing. Di pulau ini sudah banyak hotel dan losmen, sehingga bisa menginap disini, pantainya masih asli. Untuk mencapai lokasi ini bisa menggunakan kapal motor.

8. Sukarare. Desa tempat orang menenun, disinilah jika ingin membeli kain tenun tradisional khas Lombok, serta melihat bagaimana para penenun melakukan pekerjaannya. Lokasi 25 km dengan kendaraan dari kota Mataram.

9. Rambitan/Sade. Desa asli Lombok, dengan rumah tradisional suku Sasak, lokasi 50 km dengan kendaraan dari kota Mataram.

10. Kuta/Tanjung Aan. Pantai Mandalika dengan lampu-lampu yang berkilauan , dimana kita bisa berenang, terdapat hotel dan restoran. Setiap tahun ada perayaan menangkap/melihat Nyale fish, lokasi 56 km dengan kendaraan dari kota Mataram.

11. Mataram. Mataram adalah ibu kota propinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan Ampenankota pelabuhan lama (sekarang sudah pindah ke Lembar). Kota Ampenan berciri khas arsitektur kuno, yang bila dibersihkan dan dirawat dengan baik, akan menjadi daerah tujuan wisata yang digemari. Di kota Mataram (yang sudah menjadi satu kesatuan dengan kota Ampenan dan kota Cakranegara) kita bisa wisata kuliner, dengan makan makanan Lombok yang ciri khasnya adalah pedas. Di Jakarta kita sering melihat rumah makan Taliwang, yang ternyata Taliwang adalah nama suatu daerah, yang awalnya banyak penjual makanan khas Lombok di daerah ini. Makanan khas Lombok, antara lain: Plecing kangkung, ayam plecingan, ayam julat (ayam yang bumbunya pedas sekali), sambel beberok. Plecing ternyata merupakan nama masakan, sehingga dikenal masakan kangkung yang diberi /dimasak bumbu plecing, ayam yang dimasak plecing (ayam diberi bumbu pedas, didiamkan, dibakar/digoreng, kemudian diberi bumbu pedas lagi). Sambel beberok adalah sambel yang dibuat dari irisan terong ungu, irisan bawang merah, irisan tomat dan cabe, disajikan bersama makanan khas Lombok lainnya. Minuman yang khas adalah kelapa madu, terdiri dari air kepala muda, dan kelapa mudanya di suwir-suwir serta diberi madu…ehhm…sedaaap. Untuk membeli oleh-oleh kain tenun khas Lombok, bisa di Cilinaya Shopping Centre. merupakan

12. Cakranegara. Merupakan kota bisnis, terdapat pasar pertanian, pasar burung, dan mata air Mayura serta pura Meru, pura terbesar di Lombok. Cakranegara konon dulunya merupakan bekas kerajaan, namun bekas kerajaan (situs) sudah tak bisa dikenali. Jika ingin oleh-oleh makanan, maka bisa membeli kaki ayam goreng, telur asin dan berbagai manisan dari rumput laut.